::: FrOm ZeRo To HeRo :::
25 May 2005
Sajak Saman
kepada Aceh

adakah setiap ketukan dada setiap rampak tepuk di paha masih melagukan syair pujian agung saat setiap bait terbaca ribuan puisi berserak di jalanan di puing-puing bangunan di apungan air di lubuk mata saat setiap lagu beralun selarik luka kalbu menyala merah magma meleleh tak terperi saat gempa dalam dada mengguncang jiwa merobek langit dengan tangisan dengan bau mayat menyengat kulit hingga remang oleh puisi tanpa sajak tanpa kata-kata hanya desir angin serupa nafas hantu betapa ngeri betapa nyeri
adakah setiap suap nasi terasa hambar kini ataukah makin lezat ditingkah gambar mayat mengapung di layar tivi
adakah masih kata-kata menjadi puisi

adakah setiap ketukan dada setiap rampak tepuk di paha masih melagukan syair pujian agung saat setiap bait terbaca ribuan puisi berserak di jalanan di puing-puing bangunan di apungan air di lubuk mata saat setiap lagu beralun selarik luka kalbu menyala merah magma meleleh tak terperi saat gempa dalam dada mengguncang jiwa merobek langit dengan tangisan dengan bau mayat menyengat kulit hingga remang oleh puisi tanpa sajak tanpa kata-kata hanya desir angin serupa nafas hantu betapa ngeri betapa nyeri
adakah setiap suap nasi terasa hambar kini ataukah makin lezat ditingkah gambar mayat mengapung di layar tivi
adakah masih kata-kata menjadi puisi
:: ditulis oleh Akhmad Arif, 2:44:00 am
2 Komentar
Bagus neh puisine....
, at 8:39 am
wow! puisi ditulis sendiri? very nice

